Berpikir positif merupakan sikap
mental yang melibatkan proses memasukan pikiran-pikiran, kata-kata, dan
gambaran-gambaran yang konstruktif (membangun) bagi perkembangan pikiran Anda.
Pikiran positif menghadirkan kebahagiaan, suka cita, kesehatan, serta
kesuksesan dalam setiap situasi dan tindakan Anda. Apapun yang pikiran Anda
harapkan, pikiran positif akan mewujudkannya.
Tidak semua orang menerima atau
mempercayai pola berpikir positif. Beberapa orang menganggap berpikir positif
hanyalah omong kosong, dan sebagian menertawakan orang-orang yang mempercayai
dan menerima pola berpikir positif.
Kita sering mendengar orang berkata:
“Berpikirlah positif!”, yang ditujukan bagi orang-orang yang merasa kecewa dan khawatir. Banyak orang tidak menganggap serius kata-kata
tersebut, karena mereka tidak mengetahui arti sebenarnya dari kata-kata
tersebut, atau menganggapnya tidak berguna dan efektif.
Cerita berikut mengilustrasikan
bagaimana kekuatan berpikir positif bekerja:
Beno mengajukan lamaran kerja, namun
kepercayaan dirinya rendah, dan dia menganggap
dirinya gagal dan tidak layak memperoleh kesuksesan, ia merasa yakin bahwa ia
tidak akan memperoleh pekerjaan tersebut. Ia memiliki pikiran negatif terhadap
dirinya sendiri, dan percaya bahwa calon pegawai yang lain lebih baik dan lebih
memenuhi syarat dibandingkan dirinya. Beno memperoleh sikap ini karena
pengalaman buruk yang ia peroleh dari wawancara pekerjaan yang telah ia ikuti
sebelumnya.
Pikirannya dipenuhi dengan pikiran-pikiran
negatif dan rasa takut atas pekerjaan tersebut selama satu minggu penuh sebelum
ia akan diwawancara. Ia yakin ia akan ditolak. Pada hari wawancara ia bangun
terlambat, rasa takutnya menjadi kenyataan. Ia mendapati kemeja yang akan ia
kenakan kotor, dan kemejanya yang lain harus disetrika. Dan karena ia sudah
terlambat, ia memutuskan untuk mengenakan kemeja yang kusut.
Selama wawancara, ia merasa tegang,
menunjukkan sikap negatif, khawatir mengenai kemejanya, dan merasa lapar karena
ia tidak memiliki cukup waktu untuk sarapan. Semua hal ini menyebabkan
pikirannya teralihkan dan sulit baginya untuk fokus pada wawancara. Sikapnya
secara keseluruhan menimbulkan kesan yang buruk, dan sebagai akibatnya rasa
takutnya menjadi kenyataan dan tidak memperoleh pekerjaan tersebut.
Budi juga mengajukan lamaran atas
pekerjaan yang sama, namun ia menyikapinya secara berbeda. Ia merasa yakin
bahwa ia akan memperoleh pekerjaan tersebut. Satu minggu sebelum wawancara, ia
sering memvisualisasikan dirinya memperoleh pekerjaan tersebut.
Malam hari sebelum wawancara, ia
menyiapkan pakaian yang akan ia kenakan dan tidur lebih awal dari biasanya.
Pada hari wawancara, ia bangun lebih awal dari biasanya, sehingga ia memiliki
cukup waktu untuk sarapan, lalu tiba di tempat wawancara sebelum jadwal.
Ia memperoleh pekerjaan tersebut
karena ia berpikir positif terhadap hal-hal yang ia lakukan. Tentunya ia juga
memenuhi persyaratan untuk memperoleh pekerjaan tersebut, sama halnya dengan
Beno.
Apa yang bisa kita pelajari dari dua
cerita tersebut?
Jika kita memiliki sikap yang positif,
sikap-sikap tersebut akan menghasilkan perasaan-perasaan yang positif,
gambaran-gambaran yang konstruktif, dan kita akan melihat dalam mata pikiran
kita apa yang kita inginkan. Hal ini akan memberikan pencerahan, lebih banyak
kekuatan, dan kebahagiaan. Diri Anda juga akan memancarkan kebaikan,
kebahagiaan, dan kesuksesan. Bahkan pikiran positif juga akan memberikan
beragam manfaat bagi kesehatan Anda. Kita berjalan tegak dan suara kita lebih
berwibawa. Bahasa tubuh kita menunjukkan perasaan kita.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar